Menembus Lumpur dan Jalan Putus! Kisah Ustadz Dody MH Pikul Sembako untuk Warga Terisolasi di Jorong Sungai Rangeh

Menembus Lumpur dan Jalan Putus! Kisah Ustadz Dody MH Pikul Sembako untuk Warga Terisolasi di Jorong Sungai Rangeh
Ust Dody saat menyerahkan bantuan ke lokasi terisolasi.

BRITO.ID, BERITA AGAM — Matahari siang itu bersinar terik, namun sinarnya tak cukup menghilangkan bayangan suram yang tertinggal setelah banjir bandang melanda Jorong Sungai Rangeh, Sawah Liek, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Tumpukan lumpur menggunung seperti tembok penghalang, menyisakan potongan kayu, rangka perabot rumah, hingga sisa-sisa hidup yang hanyut bersama derasnya air.

Di antara puing, lumpur, dan jalan yang terputus, sekelompok relawan tampak memikul karung-karung berat berisi bahan pangan. Di barisan depan, seorang pria bertubuh kecil namun bersemangat besar memimpin langkah—dialah Ustadz Dody MH, Dai Kondang Berasal dari Kabupaten Dharmasraya.

Hari itu, Ustadz Dody bersama tim memilih jalur yang tak lagi layak disebut jalan. Lumpur setinggi betis, batu berserakan, dan sisa-sisa bangunan roboh harus mereka terabas demi mencapai rumah-rumah warga yang terisolasi. Tak ada kendaraan yang bisa masuk, tak ada akses distribusi logistik, dan satu-satunya pilihan adalah memikul sembako secara manual sejauh puluhan kilometer.

“Tidak apa-apa berat, yang penting sampai,” ujar salah satu relawan dalam perjalanan, seperti terekam dalam video.

Kondisi lapangan memperlihatkan betapa ganasnya bencana itu menghantam kawasan tersebut. Rumah-rumah panggung di kiri kanan tampak penuh lumpur, perabotan rumah tangga berserakan, dan aroma tanah basah bercampur serpihan kayu masih menyengat. Warga hanya bisa berdiri memandangi sisa-sisa harta benda mereka, sebagian lainnya masih membersihkan rumah yang terisi lumpur setinggi lutut.

Mengantar bantuan ke wilayah ini bukan perkara mudah. Dari pos terakhir yang masih bisa dijangkau motor, Ustadz Dody dan tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka mendaki, menuruni jalur hancur, menyeberangi aliran air yang masih deras, sambil memikul paket sembako di punggung.

“Warga di dalam sana sudah beberapa hari tidak bisa keluar. Kita tidak punya pilihan selain memikul sembako satu per satu,” tutur Ustadz Dody.

Bantuan yang dibawa bukan hanya berupa beras, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi juga selimut, air mineral, serta perlengkapan mendesak yang diperlukan warga pasca bencana.

Saat rombongan akhirnya tiba di pemukiman warga, suasana haru tak dapat dihindari. Beberapa warga—terutama lansia dan ibu-ibu—terlihat menahan air mata. Mereka tak menyangka ada tim yang mampu mencapai lokasi terpencil mereka setelah bencana menghancurkan akses utama.

“Alhamdulillah, terima kasih, Nak… kami sudah beberapa hari terputus,” ucap seorang ibu sambil menggenggam tangan salah satu relawan.

Bagi Ustadz Dody, misi kemanusiaan ini bukan kali pertama. Namun perjalanan kali ini, dengan kondisi jalan terputus total dan harus memikul sembako hingga 25 km, menjadi salah satu yang paling berat. Meski demikian, ia mengaku bersyukur bisa membantu.

“Semua lelah hilang begitu melihat warga tersenyum,” ujarnya.

Relawan pun berharap setelah bantuan darurat ini, pemerintah daerah dan pihak terkait bisa segera membuka kembali akses, mengirim alat berat, serta mempercepat penanganan agar warga tidak lagi terisolasi.

Di tengah reruntuhan dan lumpur yang masih tebal, kedatangan Ustadz Dody dan tim menjadi cahaya kecil harapan bagi warga yang terjebak dalam keterasingan pasca bencana. Jalan boleh terputus, tetapi kepedulian tidak.

Jurnalis: Ari Widodo